Waktu terus berlalu, hingga tak terasa sore hari pun tiba. Rizal yg sudah merapikan seluruh perlengkapan kuliahnya dan memasukkannya ke dalam tas segera bergegas menuju parkiran kampusnya. Dia berlari kecil menuju motornya kemudian menyalakannya dan tancap gas menjemput Natalia di kampusnya. Hanya butuh beberapa menit baginya menembus kemacetan hingga akhirnya tiba di kampus Natalia pukul 4 sore lewat 7 menit. Rizal mengambil HP dari sakunya, dia berencana menelpon Natalia, saat melihat HP ternyata ada 2 panggilan tak terjawab yg keduanya dari Natalia. Rizal segera menelpon balik. Terdengar nada dering dari milik Nat hingga kemudian, “Halo kak”, kata Nat, “Neng, aku udah di tempat kemarin nih”, Kata Rizal. Kemudian selang beberapa menit, Nat menghampiri Rizal. “Eh nunggunya lama ya?”, tanya Rizal, “Nggak kok kak, sans ae”, jawab Nat sambil tersenyum.
Nat memakai helm dan masker kemudian naik ke atas motor. Tidak lupa ia berpegangan pada pinggang Rizal, “Ke Fx yahh”, kata Nat. Motor pun dipacu dgn kecepatan yg sedang. “Ke Fx lagi nih? Neng kerja di sana ya?”, tanya Rizal, “Hmmm, iya sih”, jawab Nat, “Kerjanya apa?”, tanya Rizal kembali, “Kepooo”, kata Nat sambil tertawa. “Aku kerjanya Nyanyi2 ama joget2, haahaha”, kata Nat kembali, “Ohh Neng jadi pemandu lagu di karaoke ya?”, tanya Rizal, “Ihhh, amit2 deh, aku gini2 membernya JKT48 lohhh”, kata Nat kembali.
Mereka berdua ngobrol sepanjang perjalanan. Senyum dan tawa menandakan tidak ada lagi canggung di antara mereka, semua berawal dari kebetulan. Perjalanan yg cukup singkat namun berkualitas ini akan segera berakhir saat mereka hampir tiba di Fx.
Rizal mengerem saat tiba di shelter Fx. Nat turun dari motor, menyerahkan helm kemudian mengeluarkan dompet dan bertanya, “Brp nih ongkosnya?”, “Neng kan minta dijemput, free kok”, jawab Rizal, “Ihhh gak enak tau, brp nih? Segini cukup?”, tanya Nat sambil menyodorkan selembar uang 20ribuan, “Gak ah, lagian aku gak nyalain aplikasi, gak usah”, kata Rizal menolaknya. Nat tampak tersenyum malu dan tidak enak, “Yeee, klo gini sering2 deh jemput aku, hehehe”, kata Nat bercanda sambil tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih dan balik badan kemudian berlalu. “Neng, ntar pulangnya kyk kmarin ya?”, tanya Rizal, “Iya, ehh jgn jemput deh, gk enak aku ngerepotin”, kata Nat, “Udah, gpp, lagian kostan kita searah kok”, jawab Rizal sambil memutar motornya lalu berlalu pergi.
Rizal adalah orang kampung yg memang terbiasa hidup sederhana, jadi dalam pikirannya hanya ingin membantu, bukan untuk modus, karena Natalia memiliki kepribadian yg baik serta ramah, jadi sangat mudah baginya untuk menjadi akrab. Rizal berhenti di pinggir jalan, karena dia lupa menyalakan aplikasi ojek online miliknya. Baru beberapa menit setelah dinyalakan,dia sudah mendapatkan orderan. Rizal menerima orderan tersebut dgn senyum sumringah.
Orderan demi orderan didapatkan olehnya hari ini. Sore berubah menjadi malam, sinar mentari yg menyorot dari Barat menghasilkan cahaya jingga berangsur2 hilang, berubah menjadi gelap hingga akhirnya menampilkan taburan cahaya bintang yg cukup indah.
Desiran angin malam yg begitu dingin menerpa pipi Rizal yg sudah menunggu di shelter Fx walaupun jam masih menunjukkan pukul 10 lewat 20 menit. Artinya butuh waktu 40 menit lagi menunggu Natalia keluar dari mall itu. Rizal adalah seorang yg pemalu, sehingga sulit baginya untuk berbaur dgn pengemudi ojek online lainnya. Rizal hanya berdiam diri di atas motor menunggu Natalia, seperti seorang kekasih, padahal bukan. Kriiinggg, HP Rizal bergetar, dgn sigap Rizal merogoh sakunya mengambil HP Xiaomi miliknya. Ternyata Natalia menelponnya, “Halo Kak”, kata Nat, “Iya Neng, aku udah di shelter nih”, jawab Rizal. “Duh kak, maaf bgt, aku skrg di Plaza Senayan, kk mau jemput aku gak? Klo gak bisa gpp kok, aku gak enak”, kata Nat.
Setelah berbincang dan menanyakan lokasi tepatnya akhirnya Rizal kembali menancap gas menuju jalan keluar Plaza Senayan. Hanya butuh waktu beberapa menit karena jaraknya yg begitu dekat. Dari kejauhan sudah terlihat Nat sedang menunggu sambil membawa beberapa kantong plastik. Sepertinya dia baru saja berbelanja. Rizal membunyikan klakson sekali kemudian Nat menghampirinya.
Setelah mengenakan helm, Nat naik ke atas motor dan Rizal mengambil kantong plastik yg dipegang oleh Nat dan menaruhnya di depan agar Nat leluasa saat diboncengnya. “Kak, udah makan blm?”, tanya Nat, “Aku biasa makan di depan kostan, ada lalapan ayam murah di sana”, jawab Rizal. “Hmmm, kita makan dulu yuk”, kata Nat.
Mereka berdua akhirnya sepakat untuk makan malam terlebih dahulu. Mereka mencari tempat makan yang cukup sederhana, sebuah warung tenda yg cukup ramai. Saat itu Rizal sudah mencopot jaket ojek onlinenya, jadi tampak seperti seorang pemuda biasa. Tibalah mereka di sebuah warung tenda yg menjual berbagai makanan seafood. “Pesen aja kak, aku yg bayar”, kata Nat, “Wah, aku ditraktir nih?”, tanya Rizal sambil tersenyum kemudian melihat menu makanan. Rizal masih canggung karena dia merasa tumben ditraktir oleh seorang gadis yg mana dia adalah penumpangnya.
Pesanan telah di catat oleh seorang pelayan, kemudian mereka berdua terdiam. Nat tampak sedang melihat2 HPnya, scroll up dan scroll down, seperti sedang membaca sesuatu, begitu fokus, dan tampaknya dia sedang membuka akun sosial medianya. “Eh, tadi Neng anggotanya JKT48 ya?”, tanya Rizal, “Iya, knp?”, Nat kembali bertanya, “Itu girlband kan? Trus kenapa di Fx?”, tanya Rizal sedikit kebingungan, “JKT48 itu idolgroup kak, bukan girlband, di Fx ada theaternya, kapan2 nonton deh”, kata Nat. Rizal hanya mengangguk2 walaupun dia sebenarnya tidak begitu mengerti.
Rizal sempat terdiam sambil menatap wajah Nat, “Kenapa kak, kok ngeliatin aku kyk gtu”, tanya Nat memecah keheningan, Rizal sempat sedikit terkejut “Ehh gpp kok, btw kok mau ngajak aku makan?”, tanya Rizal, “Abisan kk dibayar gk mau, yaa aku kan gk enak, makanya mending aku traktir makan aja”, jawab Nat. Rizal hanya mengangguk menanggapi jawaban dari Nat.
Beberapa saat kemudian makanan yg dipesan pun telah siap dan diantar ke meja mereka. Mereka menyantap makanan tersebut dgn lahap, terlihat keduanya begitu lapar setelah beraktifitas menjalani profesi mereka masing2. Tanpa canggung mereka berdua menghabiskan makanan dan minuman yg telah dipesannya hingga bersih. Mereka berdua akhirnya tertawa setelah mata mereka saling bertemu dan memandang. Melihat “kerakusan” mereka berdua. “Waduh, cantik2 makannya banyak”, kata Rizal. Nat memukul pelan bahu Rizal sambil sedikit cemberut.
Mereka berdua terduduk sebentar sambil kembali mengobrol. Menceritakan latar belakang mereka masing2. Nat bercerita bahwa dia adalah seorang gadis yg berasal dari Rangkasbitung, sementara itu Rizal bercerita bahwa dia adalah pemuda yg berasal dari sebuah kota kecil di Jawa Timur. Dia menuju Jakarta untuk kuliah dan bekerja, karena kedua orang tuanya hidup dgn sederhana. Rizal adalah anak pertama dari 3 bersaudara sehingga memiliki tanggung jawab paling besar.
Percakapan tentang diri masing2 menambah kedekatan di antara mereka berdua. Nat bercerita tentang kehidupannya sebagai member JKT48, dia bercerita tentang suka dan dukanya selama di JKT48, hingga apa saja yg harus dilakukannya di depan fans. Rizal tampak antusias mendengarkannya, karena dia tidak tau tentang JKT48. Yg diketahui olehnya adalah, JKT48 memiliki personil 48 orang dan salah satunya adalah Melody dan Nabilah.
Hari makin malam, mereka berdua memutuskan untuk meninggalkan warung tenda itu menuju motor. Rizal kembali mengendarai motornya dgn kecepatan yg sedang. Malam makin dingin, semilir angin begitu menusuk ke dalam tubuh, membuat Natalia harus sedikit memeluk pinggang Rizal. Ciiiiitttt, “awwwwww”, teriak Nat, “Ehh maaf2, ada anak kucing”, kata Rizal. Tanpa sengaja payudara Nat menekan punggung Rizal. Nat turun dari motor lalu mengambil anak kucing tersebut. “Uwwuwuwww, lutcuunaaa”, kata Nat dgn nada yg sedikit manja. Nat kemudian menaruhnya di semak2 pinggir jalan agar tidak terjadi apa2 padanya.
Nat kembali naik ke atas motor. Kali ini dia duduk agak ke belakang. “Kaget, kirain ada apa”, kata Nat sambil sedikit tertawa. Rizal hanya terdiam karena dia juga terkejut dan merasa tidak enak telah merasakan kenyalnya payudara Natalia. Perjalanan pun dilanjutkan dan tak butuh waktu lama hingga akhirnya mereka berdua tiba di depan kost Natalia. “Makasi ya Kak”, kata Natalia sambil menyerahkan helm dan kemudian mengambil kantong plastik belanjaannya tadi. “Boleh minta Line atau WA nya gak?”, pinta Rizal, kemudian Nat memberikan keduanya.
Nat berpaling dan masuk ke dalam kostan, sementara itu Rizal memacu motornya agak cepat menuju kostan yg jaraknya dekat dgn kost Nat. Hanya berjarak sekitar 1 hingga 2 km saja. “Eh baru balik lu? Gimana ngojeknya?”, tanya Pak Arifin, seorang Bapak Kost yg selalu berkunjung mengecek keadaan kost miliknya. “Mmm Alhamdulillah, lumayan Pak”, jawab Rizal sambil memarkirkan motornya.
Rizal menggeliat sambil menguap, meregangkan tubuhnya kemudian masuk ke dalam kamarnya dan menyalakan laptop miliknya. Lagu Katon Bagaskara yg berjudul Negeri di Awan menemani dirinya dalam mengerjakan sebuah tugas dari kampusnya. Lirik lagu yg begitu dalam serta nada syair yg sangat indah benar2 membuat suasana hati Rizal menjadi tenang. Di sela2 mengerjakan tugas, Rizal mengirim sebuah pesan singkat melalui aplikasi Line miliknya ke Natalia, “Neng, besok dijemput jam brp?”, baru saja terkirim kemudian di read. Hanya butuh waktu beberapa detik, pertanda bahwa Nat sedang menunggu chat darinya, “Jangan deh kak, aku bener2 gak enak ama kk”, jawab Nat. “Hmmmm, yakin nih gak enak ama aku? Akunya enak2 aja kok”, kata Rizal, “Kk kan tukang ojek, masak aku gratisan terus”, kata Nat, “Yeee enak aja, aku mahasiswa, ngojek cuma jadi sampingan doank, buat bayar kuliah n kost”, jawab Rizal. “Ya udah klo gtu jmput deh kyk tadi ya”, kata Nat.
Rizal tidak keberatan menjadi “tukang ojek pribadi” Natalia, seorang gadis manis dari Rangkasbitung yang seksi dan juga ramah. Menjadi pengemudi ojek online memang bukanlah sebuah pekerjaan yang bonafit tapi juga bukanlah sebuah pekerjaan yang hina. Uang yg dihasilkan adalah uang halal dan berkah yg bisa digunakan oleh Rizal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama di Jakarta.
Saat ini Rizal benar2 ingin merubah hidupnya di Ibu Kota, agar dapat mengangkat derajat keluarganya di Kampung. Sebuah cita2 yg sungguh mulia dari seorang pemuda yg mandiri dan tidak banyak menuntut ini.
Malam makin larut, hingga akhirnya Rizal harus tidur karena esok harus bangun pagi dan mengerjakan pekerjaan barunya, yaitu antar jemput Natalia. Lagu KLa Project berjudul Tak Bisa Ke Lain Hati menemani Rizal tidur dan memasuki alam mimpi. Alunan nada yg sungguh merdu serta kata-kata indah yg mendayu2 di gendang telinga Rizal hingga terbawa ke alam mimpi kemudian menjadikannya nyata.
Raut wajahnya terpancar kobaran semangat yg begitu membara. Senyum tipis terkembang di bibirnya saat gadis cantik yg selalu menemaninya 2 hari ini tiba2 hadir di dalam mimpinya. Berjalan di sebuah taman, memetik setangkai mawar lalu diselipkan di poninya, kemudian berlari.
Melambung jauh terbang tinggi
Bersama mimpi
Terlelap dalam lautan emosi
Setelah aku sadar diri
Kau tlah jauh pergi
Tinggalkan mimpi yang tiada bertepi