Witing tresno jalaran soko kulino, sebuah pepatah Jawa, barangkali ungkapan tersebut sangat cocok disematkan pada kehidupan si Tukang Ojek dan si Idola Remaja, Rizal dan Natalia. Berawal dari sebuah kebetulan, kini menjadi kebiasaan. Ya, sebuah kebiasaan menghadirkan rasa nyaman dan rasa nyaman menghadirkan rasa yg lebih dalam lagi, yaitu cinta. “Ahhhh nggak, kok gw jadi ngelantur gini sih”, kata Nat dalam hatinya saat dia sedang mendengarkan sebuah lagu di Macbook miliknya. Nat berusaha menepis perasaan2 yg mulai timbul di dalam hatinya, tapi senyum kecil dari bibirnya sudah cukup menggambarkan apa yg ada di hatinya kini.
Tak terasa 2 Minggu sudah sejak pertama kali bertemu dengan Rizal dan resmi menjadikannya sebagai ojek pribadi dirinya, “hehehe, jahat sih, tapi mau gimana lagi, udah nyaman kok”. Kata Natalia dalam hati sambil tersenyum tipis kemudian mengambil HPnya dan mengetikkan sebuah kata, “Selamat tidur ya kak, besok jemputnya agak pagi yaa”. Itulah bunyi Chat Natalia untuk Rizal.
Waktu semakin malam, sudah waktunya bagi Nat bersiap2 tidur. Laptop telah dimatikan, kemudian dia menyalakan HP dan membuka aplikasi pemutar lagu. Dipilihnya Playlist Westlife favoritnya kemudian diputarnya untuk menemani tidurnya malam ini. Natalia menarik selimut hingga akhirnya diapun tertidur memasuki alam mimpi.
Mimpi yg dialami Nat begitu indah, seindah suasana hatinya yg sedang berbunga2 hingga akhirnya alarm membangunkannya. Nat menggeliat kemudian bangun dari tempat tidurnya, menanggalkan seluruh pakaian yg dikenakannya hingga telanjang bulat. Dia menyalakan HPnya dan kembali mengulang lagu westlife yg semalam didengarkannya kemudian menghubungkannya dgn speaker dan masuk ke dalam kamar mandi. Sebelumnya dia berhenti sejenak di depan cermin, memandang tubuh bugilnya, lalu memegang payudaranya sendiri seolah2 sedang bangga terhadap tubuhnya yg seksi itu. Nat memang memiliki tubuh yg seksi dan dia bangga akan hal itu.
Nat membiarkan pintu kamar mandinya terbuka, karena memang dia hanya tinggal seorang diri di kamar kostnya. Nat menyalakan shower, ia mulai membasahi tubuhnya dgn air yg mengucur dari shower, mengalir dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Melewati setiap sudut2 dan lekukan tubuh indah itu. Jari2 lentiknya mulai bermain menyibakkan setiap helai rambut, kemudian turun ke leher hingga akhirnya terdiam di bagian payudara. Nat mulai terbawa suasana ketika matanya terpejam, membayangkan sesuatu.
So as long as I live I love you
Will have and hold you
You look so beautiful in white
And from now ’til my very last breath
This day I’ll cherish
You look so beautiful in white
Tonight
Lirik lagu yg berjudul Beautiful in White mendayu2, nada indahnya mampu menghipnotis membawa pikiran Nat pergi jauh entah kemana. Jari lentiknya mulai menyentuh lembut puting susunya sendiri. Menekannya kemudian memilin2nya. Desahan yg begitu pelan keluar dari mulutnya.
Jari lentiknya perlahan turun, memegang perutnya yg rata dan terdiam di selangkangan. Menggesek2 lembut kewanitaannya, matanya masih terpejam namun desahan manjanya terdengar seindah lantunan lagu yg berputar. Imajinasi tanpa batas mampu membuat tubuh Nat menggelinjang merasakan geli yg begitu nikmat. “Kriiiiiiinggg”, tiba2 sebuah telpon merusak imajinasinya sesaat. Nat berlari keluar dari kamar mandi, mencopot kabel jack yg menghubungkan HP dengan speaker kemudian mengangkat telponnya. “Halo Neng, udah siap belum? Aku jemput skrg ya”, kata Rizal, “Okeee kak”, jawab Nat. Kemudian dia kembali ke kamar mandi dan melanjutkan mandinya.
Segera Nat bersiap2, mengenakan pakaian dan mulai memakai make up di wajahnya. Kali ini Nat memakai atasan berwarna hitam agak ketat dengan celana jeans berwarna hitam pula. Pagi ini Nat harus datang pagi2 ke kampusnya. “Bangsaaat lo”, “Aaaahhhh, maaf Pak”, “Woooiii hajaaar”, *(#^&$*@^&*$, suara kegaduhan terdengar dari luar kost Natalia. Nat mengacuhkannya karena dia sedang sibuk memakai make up.
Namun karena makin lama suara yg terdengar makin seru, akhirnya Nat mempercepat make upnya dan kemudian berlari keluar. Betapa terkejutnya Nat ketika melihat, “Aaaaaaa, jangaaaan, jangaaan”, Nat berteriak, berlari dan melerai org2 tersebut. Ya, ternyata keributan tadi adalah org2 sedang menghajar Rizal yg sedang mengenakan jaket Ojek Online. Motornya sudah jatuh dgn kaca spion yg patah dan sayap yg pecah. “Sudah gw bilang, jangan berani2 ambil penumpang di sini, ini daerah kami”, kata salah seorang yg memukuli Rizal, “Dia jemput aku, aku pacarnya”, kata Nat.
Rizal yg sedang memegangi bibirnya yg berdarah sempat terkejut lalu melihat ke arah Nat. “Ahhhh bohong lu, udah pergi sana”, kata org2 tadi, “Coba di cek aja HPnya, dia emang ojek online, tapi dia kesini buat jemput aku kuliah doank, cek aja HPnya ada gk orderan dari aku”, kata Nat berusaha menenangkan keadaan. “Aahhhh ngentot lu, braaaak”, kata salah satu org tadi sambil menendang kaki Rizal yg masih tersungkur tak berdaya. Semua org bubar, dan ada beberapa org yg merasa iba lalu membantu Rizal memberdirikan motornya. Org2 yg tadinya hanya menonton saja kemudian mulai bubar. “Ke kamarku dulu yuk”, kata Nat kepada Rizal.
Rizal yg sedang terluka di bagian wajah hanya mengikuti saja perkataan Nat. Dia mengikuti Nat dari belakang kemudian masuk ke dalam kamar kostnya. Ada beberapa teman kost Nat yg mampir ke kamar Nat hanya untuk melihat keadaan Rizal. “Kurang ajar bgt org2 itu, mereka emang sering bikin onar di sini, laporin aja ke polisi”, kata salah seorang teman Nat.
Natalia terlihat sedang sibuk mengambil handuk kecil, kemudian membasahinya lalu mendekati Rizal dan menempelkan handuk kecil tersebut. “Ahhhh”, Rizal meringis kesakitan ketika handuk basah itu menyentuh pipinya yg lebam. Kemudian Nat membersihkan bibirnya yg penuh luka dengan tangannya sendiri. Rizal hanya terdiam melihat perlakuan Nat yg begitu perhatian. Nat meraih tangan Rizal, kemudian menggenggamnya, “Besok jgn jemput lagi deh”, kata Nat. Rizal tampak terkejut, “Kenapa?” tanya Rizal.
Dengan wajah kebingungan Rizal menanyakan alasan Nat, “Gara2 aku, kk jadi begini, maafin aku ya”, kata Nat. “Gpp, udah resiko, semua butuh pengorbanan”, kata Rizal, “Haaah, maksudnya? Pengorbanan apa?”, tanya Nat bingung, Rizal pun salah tingkah. Tapi Nat terus mendesak menanyakan maksud omongannya tadi. “Gpp, hehehe, jgn ditanya lagi deh, yuuk jalan”, kata Rizal.
Mereka berdua kembali bersiap2 lalu keluar dari kamar Nat dan menuju motor yg terparkir di depan pintu gerbang kost Natalia. Rizal sempat melihat2 kerusakan pada motornya. Motor yg dia sayangi kini lecet, sayapnya pecah dan spionnya pun patah. “Ntar pulang kuliah kita ke bengkel ya, perbaiki motornya”, kata Nat. Rizal hanya mengangguk saja. Mereka berdua naik ke atas motor. Rizal menyalakan motornya lalu memacu gas menuju kampus Nat.
Para pelaku pemukulan tadi sedang asik duduk2 di sebuah kursi di ujung jalan, mereka tampak tertawa terbahak2 hingga akhirnya Nat dan Rizal melewati mereka. “Woiii anjing awas lu yaaa”, tiba2 salah seorang dari mereka berteriak dgn nada yg mengancam. Nat dan Rizal tak menghiraukannya sambil berlalu dan pergi meninggalkan mereka. “Kak, aku takut klo kk ksini lagi ntar knp2”, kata Nat, “Gk usah takut, tenang aja, aku bisa jaga diri kok”, kata Rizal. Kemudian Nat memeluk Rizal dari belakang cukup erat, “Maafin aku ya kak”, kata Nat, “Apaan sih, gk salah kok minta maaf”, kata Rizal.
Pagi yg sungguh cerah, walaupun diawali dgn musibah, namun suasana hati Rizal begitu berbunga2. Tatapan mata Nat begitu beda saat mereka berpisah di kampusnya tadi. Pandangan yg memancarkan isi hati yg begitu dalam. Tatapan mata sayu yg seolah2 merasa berat hati untuk ditinggal. Entah tiba2 jantung Rizal berdegub kencang, kadang tersenyum sendiri, rasa sakit yg dia rasakan seolah2 telah hilang berganti menjadi perasaan yg belum pernah dia rasakan sebelumnya. Inikah cinta? Tanya Rizal di dalam hatinya.
Perasaan cinta yg tiba2 timbul akibat terbiasa bersama. “Aku kan cuma mahasiswa dan tukang ojek biasa, mana mungkin Nat bisa jatuh cinta ama aku?”, Rizal bertanya pada dirinya sendiri, keraguan timbul dari dalam hatinya. Rasa kurang percaya diri tiba2 menyerangnya, perasaan bahagia tadi tiba2 berubah menjadi gelisah. Menjadi takut kehilangan, tapi Rizal sadar diri, dia bukanlah siapa2 dan tidak cocok mendapatkan cinta Natalia. Hmmmmm, tarikan nafas yg begitu dalam, Rizal berusaha menenangkan hatinya sendiri.
Sementara itu, “Eh, kamu pernah masturbasi gak?”, tanya Rudi dan Johan, teman kuliah Natalia, “Bodo'”, jawab Nat dgn tatapan yg sinis, “Hahahahaa”, Rudi dan Johan pun tertawa. Ya, Nat memang selalu menjadi obyek seksual, tidak hanya di JKT48, tapi juga di kampusnya, karena sikapnya yg cuek dan selalu tampil seksi membuat banyak cowok penasaran padanya. Sampai2 ada seorang teman Nat yg membuat survey di kelasnya, bahwa 90% cowok dikelasnya pernah coli sambil membayangkan Nat. Mengetahui hal itu Nat hanya tersenyum kecut dan tak menanggapinya.
Waktu terus berlalu hingga tak terasa sore pun telah tiba, seperti biasa, tanpa perlu diminta Rizal sudah menanti di tempat penjemputan. Nat memakai jaket kemudian memakai helm ojek online, walaupun statusnya dia tidak sedang memesan ojek online. “Kita ke bengkel dulu ya kak”, kata Nat, “Jgn deh, nih liat, udah bagus, hehee”, Kata Rizal. Nat terkejut, “Duh, brp biayanya kak? Aku ganti yaa”, tanya Nat, “Ihhh jangan”, kata Rizal. Nat terus memaksa agar Rizal mau menerima pemberian darinya, tapi Rizal terus menolak hingga akhirnya mereka sepakat, Nat cukup menraktirnya makan malam saja.
Sore hari berlalu, Rizal mengantar Nat hingga tiba di depan kostnya. Rizal berpamitan dan mereka janjian ketemuan malam hari. Rizal memutar motornya dan berlalu pergi, sementara itu Nat menutup pintu gerbang kostnya dan terkejut ternyata Nadila sedang ada di kamarnya. Nadila adalah sahabatnya di JKT48, dan juga memiliki kunci duplikat kamar kost Nat. Mereka memang sudah terbiasa bersama namun kost mereka berbeda. Mereka bercengkrama seakan2 sudah lama tidak bertemu, padahal hampir setiap hari mereka bertemu.
Nadila kemudian sibuk memainkan HPnya, “Ihhh liat nih”, kata Nadila sambil memperlihatkan HPnya kepada Nat. “Hahhaaha, kapok lu”, kata Nat tertawa terbahak2 melihat sebuah foto yg menampilkan Nadila sedang bugil, sudah tentu itu foto editan dari wota. Mereka berdua seakan2 sudah terbiasa menghadapi hal itu, dan mereka tau klo mereka berdua menjadi obyek seksual para wota.
Tak terasa malam pun tiba, Nat ingat kalau dia janjian dengan Rizal. Nat mengambil HPnya dan menelpon Rizal, “Kak, ntar makan di kostku aja ya, kebetulan ada temenku nih”, kata Nat kepada Rizal, “Okee deh, aku jln skrg ya, mau nitip apa nih?”, tanya Rizal, “Hmmm ntar dulu, aku tanya temenku dulu ya”, kata Nat. Setelah berembuk beberapa saat akhirnya mereka memesan Nasi Goreng dan Martabak Manis. Dengan semangat memakai kemeja yg rapi, menyisir rambutnya yg bergelombang ke belakang, memakai parfum, celana jeans dan bercermin sesaat. Rizal memang adalah seorang pemuda yg lumayan, namun tidak memiliki pengalaman soal cewek.
Setelah dirasa sudah cukup persiapannya menemui wanita pujaannya, walaupun masih dalam hati saja, Rizal akhirnya menyalakan motornya, memakai helm dan menuju ke sebuah warung tenda untuk membeli nasi goreng dan martabak manis pesanan Nat. Rizal tidak begitu lama mengantri, karena kebetulan pelanggan belum rame. Waktu terus berjalan, pesanan pun telah diterima dan Rizal kembali memacu gas motornya menuju Kost Natalia.
Tak butuh waktu lama bagi Rizal hingga ia tiba di depan pintu gerbang. Rizal menelpon Nat, dan tak sampai 1 menit, Nat keluar dari kamar kostnya menuju pintu gerbang. Rizal sempat melongo melihat Nat, bagaimana tidak, Nat yg biasanya tampil begitu elegan walaupun seksi kali ini mengenakan t-shirt ketat tanpa lengan dan celana jeans ketat pendek. “Gk beli minum ya kak?”, tanya Nat, Rizal hanya menggeleng. “Ya udah, masuk aja ke kamarku dulu kak, aku beli minum dulu”, kata Nat.
Nat berjalan menuju sebuah minimarket yg dekat dgn kostnya. Rizal masih tetap terpana melihat bokong seksi Nat hingga bunyi klakson motor menyadarkan dirinya. Rizal akhirnya menuntun motornya masuk ke dalam halaman kost Nat, kemudian berjalan dan masuk ke dalam kamar Nat dan duduk dan terdiam di karpet berwarna biru. Rizal hanya terdiam sambil melihat2 kesana-kemari, memperhatikan beberapa poster dan hiasan dinding yg terpasang di kamar Nat. Rizal tersenyum saat melihat sebuah foto dgn frame berwarna putih, foto itu memperlihatkan Nat yg sedang memakai seragam JKT48.
Kreeeeekkk, tiba2 pintu kamar mandi terbuka, “Lalalala”, seorang gadis keluar dari kamar mandi sambil bernyanyi dgn cueknya, dia hanya memakai celana dalam dan tidak memakai atasan sama sekali. Payudaranya yg begitu mulus terpampang jelas di depan mata Rizal. Gadis cantik itu terus bernyanyi kemudian mengambil handuk yg terletak di sebuah kursi. “Aaaaaahhhhhhhhh”, tiba2 gadis itu teriak saat matanya dan mata Rizal saling bertemu. “Ehhh maaf2 Neng”, kata Rizal sambil berusaha memalingkan wajah. Gadis itu berlari kecil lalu masuk kembali ke kamar mandi. Jantung Rizal berdegup kencang melihat pemandangan yg sungguh indah tadi, hingga akhirnya gadis itu keluar dari kamar mandi sudah mengenakan pakaian yg lengkap.
Gadis itu tersenyum pada Rizal dan kemudian duduk di sampingnya lalu menyodorkan tangannya, “Aku Nadila”, kata gadis itu, lalu tangannya disambut oleh Rizal, “Rizal, mmm maaf tadi ya, aku gk sengaja”, kata Rizal, “Hmmm gpp kok, kan gk sengaja”, kata Nadila sambil tersenyum padanya. Mereka berdua menunggu Nat yg sedang membeli minum. Mereka berdua bercengkrama, mengobrol dan membahas tentang kegiatan masing2.