Cerita Bersambung Nikmatnya Bercinta dengan Adik Ipar Eps. 3

July 22, 2025

Bagian 9 – Antara Kata dan Tatap

Beberapa hari terakhir, rumah kami terasa sunyi bukan karena sepi, tapi karena ada sesuatu yang menggantung di udara. Sejak pagi itu… sejak mata kami saling tahu tapi tak bicara… aku dan Ardi seperti dua orang asing yang terlalu sadar akan keberadaan satu sama lain.

Kami hanya saling menyapa jika benar-benar tak bisa menghindar. Tapi ada jeda di setiap kalimat. Ada gugup di setiap langkah.

Ya kejadian itu membuat kami berdua merasa canggung satu sama lain, malu untuk akrab, apalagi ngobrol, entah karena merasa bersalah satu sama lain, atau ada hal lainnya lagi.

Hingga pagi ini, saat aku sedang menyeduh teh di dapur, Ardi yang duduk di sofa bersuara pelan.

“Kok… ada yang aneh ya?” Tanya Ardi secara tiba-tiba, bagaikan petir di siang bolong, mengagetkanku, karena sudah 4 hari tidak ada pertanyaan apapun diantara kami.

Aku menoleh sekilas. “Aneh gimana?” Aku kembali bertanya.

“Perasaan… kita kayak canggung gitu. Hehehe.” Jawab Ardi sambil tertawa.

Aku terkekeh kecil, mencoba seolah biasa saja. “Ihhh kamu aja kali yang ngerasa gitu. Mbak sih biasa aja.” Jawabku sok bijaksana.

“Yakin nih? Duduk sini deh…” katanya, kali ini dengan nada santai tapi… ada tantangan di ujungnya.

Aku sempat ragu. Tapi gengsiku lebih kuat. Aku mengambil cemilan dan mendekat. Duduk di sofa di sampingnya, menyodorkan biskuit sambil pura-pura cuek.

“Kenapa sih?” Tanyaku tapi tak menatap.

“Nggak kenapa-kenapa… Cuma kangen aja. Kapan kita ngedate lagi?”

Aku tertawa kecil, menatap ke depan. “Ihhh kasihan kakak kamu. Masa diselingkuhin.”

“Yaaa… kan nggak dimasukin hati, Mbak…” ujarnya sambil nyengir. “Ya tetep aja, kalo udah gituan namanya selingkuh,” Jawabku sambil sok cool dan memakan cemilan.

“Eh, kita kan gak gituan mbak, aku gak masukin juga,” Kata Ardi membuatku sedikit kaget. Hmmm … Iya juga ya.

Aku menoleh cepat. “Ehh… maksudnya?”

“Aku gak masukin punyaku ke punya mbak, kecuali kalo mau dimasukin,” kata Ardi makin nakal.

Aku menatap tajam matanya.

“Lagian aku ngajaknya ngedate mbak, bukan yang lain-lain… Tapi kalo mau yang lain juga gak apa-apa… masa ditahan?” Kata Ardi kembali.

Kata-katanya ringan, tapi menohok. Aku mencoba membalas santai, tapi jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya.

“Kalau pengin, ya keluarin aja, gitu?” Tanyaku mencoba untuk ikut ke dalam permainan kata-katanya.

“Daripada jadi penyakit, kan…” Jawab Ardi.

Hmmm benar juga sih kata anak ini. Tapi Gimana dengan suamiku?

Aku diam. Tapi mataku tetap menatap matanya.

Ada jeda.

Sunyi.

Hangat.

Aku tak tahu siapa yang mulai mendekat lebih dulu. Tapi yang pasti, jarak kami semakin sempit. Bahu menyentuh bahu. Nafas terasa saling bersahutan. Bukan karena gerakan, tapi karena sesuatu yang lama ditahan — dan kini mendekat begitu perlahan.

“Kamu maunya apa sih?” tanyaku pelan, sedikit berbisik hingga suaraku seperti desahan.

“Aku maunya… kamu gak perlu pura-pura kuat, Mbak,” jawabnya, nyaris seperti bisikan. “Kita sama-sama butuh itu kok,” kata Ardi kembali.

Aku tertawa kecil, mencoba menyamarkan gemetar di dalam dada. Tapi tubuhku tetap diam. Tetap dekat.

Ia menatapku, kali ini lebih lama. Aku tak menghindar. Di matanya aku melihat banyak hal: rasa ingin tahu, rasa bersalah, tapi juga… rasa yang selama ini mungkin dipendam.

Tanganku tanpa sadar menggenggam cemilan terlalu erat. Lalu kulepaskan. Kulemaskan bahu. Membiarkan momen ini bicara sendiri.

“Aku gak tahu, Di… aku takut salah,” bisikku akhirnya.

“Aku juga takut, Mbak. Tapi… aku juga gak sanggup pura-pura biasa lagi.”

Kami saling bicara, bibirku begitu dekat dengan bibirnya, kami berdua merasa bersalah, namun, kecupan itu begitu hangat, hingga akhirnya lidah kami bertemu satu sama lain. Berpagut dan saling mengecap, sesuatu yang tak biasa, sesuatu yang sudah lama tak pernah kurasakan.

Tangan Ardi seketika meraih payudaraku, diremasnya dengan pelan, tanganku juga mulai meraih kontolnya yang ternyata sudah mengeras. Kami berdua berciuman sambil duduk, namun bersandar di sofa.

Aku menikmati hal ini, aku begitu menikmatinya, “Ahhhhh,” desahanku mulai keluar ketika tangan kiri Ardi berpindah, dari payudara kini menuju area selangkanganku.

Tak ingin kuhalangi tangannya. Kulebarkan kedua pahaku, mempersilahkan jari-jarinya bermain di area kewanitaanku. Rupanya ia begitu terampil, begitu pintar hingga membuatku melayang.

“Ahhhh, enak sayang,” kataku sambil mendesah dan tanpa sadar kupanggil ia dengan sebutan sayang. Kugenggam tangannya, seolah-olah ingin membantunya memainkan klitorisku.

“Ssshhhhh, ahhhhhh,” aku makin meracau, sedikit menggelinjang ketika jarinya menerobos masuk ke lubang memekku. Kubantu ia dengan memajumundurkan pinggulku.

“Ahhhhh, buka dulu sayang,” kataku sambil melepas tangannya. Ia pun melepaskanku, kemudian berdiri dan membuka seluruh pakaiannya. Kami berdua kini telanjang bulat, lalu melanjutkan apa yang kami lakukan tadi.

Kukocok kontolnya yang sudah sangat tegang, sementara itu jarinya kembali menerobos memekku. “Ahhhhh, mmmhhhhh” desahan demi desahan keluar dari mulut kami berdua. Begitu nikmat, hingga kami lupa diri.

Ardi melepas kocokannya di dalam memekku, kesempatan itu membuatku mengambil posisi berjongkok tepat di depannya. Kuarahkan mulutku ke kontolnya.

“Mmmppphhhh, slurrrpppp… mpphhhhh,” suara sepongan mulutku di kontolnya. “Ahhhhh, enak mbaak,” Kata Ardi sambil memegang kepalaku seolah-olah membantuku untuk mempercepat gerakan kepalaku.

Mulutku bergesek dengan kontolnya yang keras, kondisi ini membuatku merasa menjadi wanita seutuhnya. Wanita yang mampu menaklukkan seorang lelaki.

“Ahhhhh mbaaak,” kata Ardi mendesah sambil kemudian menarik lenganku. Rupanya ia sudah tidak tahan.

Aku tau apa yang harus kulakukan sekarang, kukangkangi batang kemaluannya, kuarahkan ke lubang memekku, kemudian “Ahhhhhh,” desahan itu keluar dari mulutku ketika kontolnya menghujam masuk ke dalam lubang kewanitaanku.

Kumaju mundurkan pinggulku, kami berciuman hebat, sesekali Ardi mengulum puting susuku.

“Ahhhhhh shiiiit, enak banget,” Ardi meracau, kedua tangannya meremas dengan keras bongkahan pantatku. Sesekali jarinya begitu nakal mencoba mengusap-usap lubang anusku. Rasanya aneh, namun tetap nikmat.

“Ohhhhhh, terusin sayang,” kataku sambil terus bergoyang.

Kami tau ini salah, tapi kami tak sanggup lagi.

Kami hanya dua manusia yang duduk terlalu dekat… terlalu jujur… dan terlalu rapuh di tengah kehangatan yang tak bisa ditolak.

“Ahhhh, kamu nungging ya mbak,” Kata Ardi sambil mencoba mengangkat pinggulku. Ia ingin berganti gaya.

Akupun berdiri, kemudian kulebarkan kedua pahaku, lalu aku memegang dudukan sofa dengan sikutku. Posisi yang sangat pas untuk dinikmati.

“Wow, indah sekali mbak,” kata Ardi sambil mengelus bongkahan pantatku, lalu kemudian memainkan kontolnya tepat di bibir kemaluanku.

“Ahhhhhhh sayaaang,” kataku mendesah karena terkejut seketika ia menghujamkan kontolnya ke lubang memekku.

Plook plook plokk, suara yang begitu khas, Ardi terus memompaku dari belakang.

“Ohh yessss, ssshhhhhh,” aku terus mendesah, betapa nikmatnya hal ini.

“Ahhhh mbaak, ehhhhh,” Desahan Ardi seperti tertahan, ia terus mempercepat goyangannya, makin keras menghujamkan kontolnya.

“Ahhhhh mbaaak aku mau keluaar,” kata Ardi tiba-tiba, membuatku makin bergairah.

“Terusin sayang, terus, jangan dicabut,” kataku, “Ahhhhhh terussss,” kataku kembali sambil mendesah hebat.

Desahan kami memenuhi ruangan itu. Suara tamparan antara paha Ardi dan pantatku begitu keras, menandakan kami berdua hampir mencapai klimaks.

“Mbaaak, aku keluarr, ahhhh,” kata Ardi begitu keras, disambut dengan goyangan yang begitu keras.

“Keluarin di dalem sayaang, ahhhh mbak juga mau keluar,” jawabku sambil merasa hampir sampai ke titik klimaks.

“Ahhhhh teruussss, ahhhhhh, ohhhhhh,” desahan kami berdua begitu hebat, diakhiri dengan desahan yang begitu panjang, serta hentakan yang begitu keras dan tertahan di dalam lubang memekku. Ya kurasakan cairan hangat menyemprot lubang senggamaku. Aku juga sudah mencapai klimaks sepersekian detik sebelumnya.

Kubiarkan Ardi tetap membenamkan kontolnya di dalam memekku, sambil merasakan sisa-sisa kenikmatan kami berdua.

“Ahhhhhh,” desahan terakhir dari Ardi sambil kemudian mencabut kontolnya dari memekku.

Spermanya mengalir di pahaku, namun ku tak peduli. Kurebahkan tubuhku di sofa, ia pun merebahkan tubuhnya tepat di sampingku.

Kami diam. Hening. Tapi nyaman. Hingga akhirnya aku bersandar pelan di bahunya. Dan dia tak bergerak — seolah tahu, itulah satu-satunya hal yang kuizinkan malam itu.

Begitu saja kami tertidur. Di sofa ruang tengah. Dalam posisi yang terlalu akrab untuk disebut wajar… masih dalam kondisi telanjang bulat dan terlalu dalam untuk dibiarkan lama-lama.

SEKIAN