Kreeeekkk, pintu kost dibuka, tampak Nat sedang membawa bungkusan yg berisi 3 botol air mineral. “Ehhh kurang ajar kamu, gk ngasi tau klo ada cowok mau dateng”, kata Nadila yg tiba2 nyemprot ke Nat. “Kenapa? Kok tiba2 ngomel”, tanya Nat bingung, “Santai aja aku tadi keluar dari kamar mandi, gk pake apa2, trus nyanyi2 ambil handuk, huhhhh”, jawab Nadila sambil memperlihatkan wajah cemberutnya yg manja. “Hahahaha, trus Kak Rizal liat Nadila bugil ya?”, tanya Nat kembali, Rizal hanya menunduk tak menjawab dan memperlihatkan tingkah laku yg sedang malu. “Gk bugil jg sih, aku masih pake CD, tapi aku gk pake BH tauu huuu”, kata Nadila sambil berpura2 menangis.
Rizal hanya tertunduk malu dan sesekali salah tingkah berada di antara dua gadis cantik dan seksi itu. “Kak pernah theateran gak?” tanya Nadila, “Hmmm belum pernah sih”, jawab Rizal, “Sekali2 theateran kak, nonton si Nat, dia hot bgt loh”, kata Nadila, “Awwww”, Nadila meringis kesakitan ketika Natalia mencubit pahanya. Rizal kembali tersenyum melihat tingkah laku mereka.
Nadila membuka layar macbook miliknya, kemudian menyalakan lagu2 Korea favoritnya. Mereka bertiga duduk diam sambil menikmati lagu tersebut. “Kapan jadiannya nih?”, Nadila kembali bertanya. “Ihhh apaan sih”, Nat protes dan memukul2 Nadila menggunakan bantal yg dipakai untuk menutupi pahanya. Tingkah mereka berdua seperti anak kecil, begitu lucu dan menggemaskan, Rizal tersenyum melihat tingkah laku mereka berdua.
“Gak ada salahnya kan aku nanya kak? udah 2 Minggu PDKT mulu, gak jadian2”, kata Nadila kembali, Nat mencekik leher Nadila sambil berusaha menutup mulutnya, “Ihh bawel bgt sih, diem napa”, kata Nat. Nadila hanya tertawa terbahak2, sedangkan Rizal hanya tertunduk malu sambil tersenyum. Suasana gaduh hanya terjadi di kamar Nat saja, sedangkan kamar lainnya sudah sunyi dan hening.
Duaarrrrrrr, “Aaaaaaaa”, Nat dan Nadila berteriak ketik suara halilintar tiba2 menggelegar mengejutkan mereka. “Ehh aku balik dulu yaa, mau ujan”, kata Rizal, Nat hanya mengangguk sedangkan Nadila sibuk mengetik sesuatu di Macbook miliknya. Setelah berpamitan, Rizal pun keluar menuju halaman kost untuk mengambil motor. Nat mengantarnya hingga pintu gerbang. Cahaya kilat terus bersahutan disambut dgn suara petir yg menggelegar. Dengan cekatan Rizal memutar motornya lalu berlalu pergi meninggalkan kost Natalia. Tak lupa senyum sebagai salam perpisahan mereka berdua terlontar dari bibir Rizal.
Byurrrrrr, tak sampe 1 menit, hujan mengguyur begitu derasnya. Nat bukannya berlari masuk ke kamarnya, melainkan berlari keluar melihat Rizal. Lampu motornya masih terlihat namun dia tetap pergi menjauh walaupun hujan deras membasahi tubuhnya. Nat berharap Rizal balik arah dan kembali lagi ke kostnya. Akhirnya Nat masuk, menutup pintu kemudian berlari ke kamarnya. Namun percuma, hujan yg begitu deras sudah terlanjur membasahi pakaian Nat.
“Huhhhh, basahhh”, kata Nat masuk ke kamar kemudian menutup pintu lalu mengambil handuk dari kamar mandinya. Nat mengusap2 kepalanya, mengeringkan rambutnya dgn handuk itu lalu melepas pakaian dan celananya yg basah. Nat hanya mengenakan BH dan CD berwarna hitam, kemudian membuang pakaian basahnya ke keranjang yg terletak di bawah meja riasnya. Bukannya mengambil pakaian ganti, tiba2 Nat melompat ke atas kasur lalu menindih Nadila yg sedang asik melihat video klip Korea. “Perkosa, perkosa”, kata Nat yang menindih tubuh Nadila dari belakang. “Aaaawwwww, ihhh jijik tau, jgn gtu, merinding gw”, kata Nadila berusaha melawan. Namun Nat terus menindihnya sambil mencekik lehernya, “cepet buka baju kamu, atau kamu saya tusuk”, kata Nat bercanda, “Naaaaaaattt, merinding gw nih”, kata Nadila sambil berteriak.
Tingkah laku yg sungguh menggemaskan, kemudian Nat merebahkan dirinya di samping tubuh Nadila. “Pake baju sana, ntar gw sange susah lu”, kata Nadila sambil tersenyum, “Sini perkosa gw”, kata Nat sambil menarik2 lengan Nadila, “Udahh donkkk, merinding gw nihhh”, protes Nadila. Nat pun tertawa terbahak2. “Eh si Rizal menurut lu gmana?”, tanya Nat, “Hmmmm, lumayan keren sih, baik jg, tapi dia ada salah”, jawab Nadila, “Salah apa?”, tanya Nat kebingungan, “Dia udah ngeliat susu gw tauuu”, jawab Nadila sambil merengek, “Ihh siapa suruh lu bugil”, kata Nat, “Lu sih gk ngasi tau klo dia mau dateng, klo gw diperkosa gmana?”, tanya Nadila, “Ya udah, tahan aja, ntar juga nikmat kok”, jawab Nat begitu enteng, “Ohhh yakin nih? Klo gw diperkosa ama Kak Rizal lu gk cemburu nih?”, kata Nadila sambil menggoda.
Nat kembali memukul lengan Nadila, mereka berdua pun kembali tertawa. Ya, mereka adalah sahabat yg sudah terbiasa bersama dan saling bercanda. “Ehhh lupa aku”, kata Nat kemudian mengambil HPnya lalu mengetik pesan singkat kepada Rizal, menanyakan apakah dia sudah sampai atau belum.
Beberapa saat kemudian Rizal membalas chat dari Nat, dia mengatakan bahwa dirinya sudah sampai dgn selamat walaupun basah kuyup. “Sorry agak lama balesnya, aku abis bikin susu panas, abis kedinginan bgt, menggigil”, isi chat dari Rizal. “Uwuwuwuw kacian bgt deh, cini aku angetin”, jawab Nat, “Gmana caranya angetin?”, tanya Rizal, “Becanda, hihihi”, jawab Nat kembali. “Eh, Nat, hmmmm, boleh tanya gak? Tapi agak pribadi sih”, kata Rizal, “Tanya apaan kak? Tanya aja, gpp kok”, jawab Nat, “Mmmm, kmu udah punya pacar blm?”, tanya Rizal, “Kan di Jeketi gk boleh pacaran kak”, jawab Nat, “Ohhh, gk boleh yaa? Hmmm, ya udah de”, kata Rizal dgn suara agak sedih, “Kenapa kak?”, tanya Nat kembali, “Gpp kok, nanya aja”, kata Rizal.
Mereka berdua lanjut mengobrol melalui chatting, membahas hal2 yg sedikit pribadi. Sudah 2 Minggu mereka selalu bersama, rasa nyaman hadir di antara mereka berdua. Nadila masih saja sibuk mengerjakan sesuatu di Macbooknya, sementara Nat masih terus menikmati perbincangan dengan Rizal melalui chat. Waktu terus berlalu, malam semakin larut, hujan masih saja deras, hingga akhirnya mereka bertiga tertidur pulas di tengah2 berisiknya suara air hujan.
Rizal tersenyum di tengah2 tidurnya, sedangkan Nat begitu pulas, seakan2 tidak ada mimpi yg menghiasi tidurnya, sementara itu Nadila dgn wajah yg murung, tertidur dalam keadaan laptop yg masih menyala.
Kriiiiingggg, tiba2 suara alarm memecah keheningan membangunkan Natalia dan Nadila. Hal pertama yg mereka lakukan setelah terbangun adalah mengambil HP mereka masing2. Hujan masih saja terdengar begitu deras. Nadila yg terlihat masih ngantuk, kembali memejamkan matanya, sementara itu Nat tampak kebingungan karena pagi ini dia harus ke kampus. “Kak, aku pake grab aja ya, ntar klo hujan brhenti, jemput aku di kampus”, bunyi chat Nat menjawab chat dari Rizal. Setelah itu, Nat pun bersiap2, mulai dari mandi, mempersiapkan peralatan untuk dibawa ke kampus dan memesan Grab.
Tak lama kemudian mobil grab pesanannya pun tiba. Tak lupa Nat berpamitan kepada Nadila yg masih tertidur pulas. Hujan memang membuat banyak orang menjadi malas, ingin menikmati sejuknya suasana sambil tiduran. Namun ujian membuat Nat harus berangkat ke kampus dan melupakan segala kemalasan itu. Nat memang serius menjalani pendidikannya, sama seperti dia menjalani profesinya sebagai member JKT48.
Sore pun telah tiba, jam kampus pun telah usai, namun hujan masih saja deras. “Kmu pake grab aja lagi ya, atau aku jemput, kita pake jas hujan mau gak?”, tanya Rizal melalui chat. Rupanya Nat lebih memilih dijemput, “Sesekali mandi ujan pake motor kyknya seru deh, hehehe”, kata Nat dalam chattingnya. Akhirnya dengan sabar Nat menunggu Rizal di kampusnya. Sementara itu hanya tersisa beberapa orang saja di kampus, karena yg lain sudah pada pulang. Suasana menjadi sepi, hanya tersisa Rudi, Johan dan Annisa, teman sekelas Nat.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Rudi dan Johan pun keluar dari kelasnya, kemudian Nat dan Annisa ikutan keluar karena merekalah orang terakhir di kelasnya. Suasana kampus begitu sepi dan malam pun telah tiba. Hujan yg tadinya deras menjadi gerimis, hingga akhirnya Nat pun keluar dan berdiri di trotoar sambil menunggu Rizal menjemputnya, sementara itu Annisa pulang terlebih dahulu karena jemputannya telah tiba. “Aku udah deket nih, tunggu di trotoar ya”, bunyi chat dari Rizal. Nat hanya membaca tanpa membalasnya, karena dia sudah berada di trotoar.
Selang beberapa lama, tiba2 sebuah mobil avanza warna hitam berhenti tepat di depan Nat. Lalu turun seorang lelaki yg ternyata itu adalah Johan, teman sekelas Nat. “Eh, aku anter yuk, pake mobil, ujan nih”, kata Johan, “Nggak, makasi, aku dijemput”, jawab Nat, “Ayo lah, ujan nih, ntar sakit”, bujuk Johan sambil memegang tangan Nat, “Jangan deh, aku udah di jemput”, tolak Nat kembali. Tiba2 datang seorang cowok dari belakang Nat membekap wajah Nat dengan sapu tangan hingga badan Nat menjadi lemas. “Ehh bantuin bego”, kata Johan memanggil temannya membopong Nat masuk ke dalam mobil.
Setelah berhasil, mobil pun melaju kencang. Pikiran Nat melayang, kepalanya begitu pusing, kesadarannya benar2 menurun hingga akhirnya matanya terpejam. Sementara itu di tempat lain, Rizal benar2 kebingungan mencoba menelpon Nat, dia menunggu sedari tadi di depan kampus Nat, hingga akhirnya dia pun masuk ke dalam kampus tersebut. Namun tidak ada orang sama sekali, yg ada hanya seorang security yg mengatakan sudah tidak ada siapapun di dalam kampus. Rizal semakin bingung, dia bertanya kesana kemari, mencoba menelpon, mengirim chat, namun tidak berhasil.
Nat merasa geli, semakin lama gelinya semakin dalam, hingga kesadarannya kian membaik. Matanya sedikit terbuka, braaakkk, tiba2 Nat menendang ketika melihat seorang lelaki sedang mengulum puting susunya. “Dmana ini?”, teriak Nat, semua tampak terkejut. Nat melihat ada 4 orang lelaki di dalam mobil, sementara itu Nat sudah tidak mengenakan pakaian. Bajunya entah dimana dan BHnya sudah terbuka, sabuk dan resleting celana jeans yg dikenakannya pun sudah terbuka. “Rudi, Johan, aku dimana?”, teriak Nat kembali.
Kemudian lelaki tadi secara tiba2 menggenggam kaki Nat, Johan memegang tangan Nat dgn kencang, “Aaaaaaa tolooooong”, Nat berteriak, namun percuma, karena dia sedang di dalam mobil. Rudi yg sebelumnya duduk di depan akhirnya pindah ke tengah, membantu teman2nya “menjinakkan” Nat yg berontak. Rudi menarik celana Nat, cd nya turut ketarik hingga bulu halus berwarna hitam yg menghiasi kemaluan Nat terpampang jelas di mata para lelaki ini. Nat terus menggeliat, memberontak, kakinya coba menendang hingga akhirnya Rudi mengeluarkan sebilah pisau. “Bisa diem gak? Kalo gak diem aku tusuk kamu”, ancam Rudi, “Tolong jangan Rud, Johan, tolong, jangan”, Nat merengek sambil mengeluarkan air mata.
Para lelaki ini sudah tak peduli, mereka semua sudah dikuasai nafsu karena melihat tubuh seksi yang sudah telanjang bulat di depan mata mereka. Natalia yg selama ini hanya mampu memuaskan hasrat Rudi dan Johan melalui imajinasi mereka, kini begitu nyata dan siap untuk dinikmati.
Johan memeluk tubuh Nat dari belakang begitu kencang, sehingga Nat tak bisa bergerak, sementara itu temannya yg bernama Anton mulai merenggangkan kedua kaki Nat, Rudi masih memegang pisau sambil mengancam Nat. Wajah Anton kian mendekat ke selangkangan Nat yg sudah tak terlindungi apapun. Begitu dekat, dia mencium aroma kewanitaan Nat yg begitu khas, “Hmmmm, seger bgt”, kata Anton, “Pliissss jangan kak”, kata Nat merengek. Tiba2 lidah Anton keluar, menjilati kemaluan Nat, menekan klitorisnya dan membasahi setiap sisi kewanitaannya. “Ahhhhhhh, jangan kak, ahhhh”, Nat menolak tapi mendesah.
Tangan Johan yg tadinya membekap tubuh Nat, kini mulai liar, bermain nakal meremas buah dada Nat yg lumayan besar. Jarinya bermain di kedua puting susunya yg berwarna kecoklatan itu. Rudi kemudian menaruh pisaunya dan menggantinya dengan HP. Dia merekam adegan yg dilakukan kedua temannya tersebut. Jilatan demi jilatan menyapu bersih lubang kenikmatan Nat. “Ahhhhhhh”, desahan yg begitu pelan keluar dari mulut Nat yg makin lama makin menikmati apa yg dilakukan oleh teman2nya tersebut.
Entah bagaimana, namun tiba2 Rudi sudah membuka celananya. Dia meraih tangan Nat dan menuntunnya untuk memegang kontolnya yg sudah tegang. Seakan2 sudah mengerti apa yg diinginkannya, Nat mengocok kontol Rudi, sementara Anton masih menikmati menjilati memek Nat yg tampak begitu terawat dan harum itu. Nat memejamkan mata, namun air matanya tetap keluar, tapi mulutnya tak dapat menyembunyikan desahan yg terkadang keluar.
“Minggir lu”, kata Rudi kepada Anton. Akhirnya Anton menyingkir, sementara itu Rudi berpindah ke bawah Nat. Rudi mengarahkan penisnya ke lubang kemaluan Nat, sedangkan Anton berpindah posisi berdiri di samping Nat sambil menuntun tangan Nat untuk mengocok penisnya. Penis Rudi sudah berada di bibir kemaluan Nat, “Ahhh jangan kak, jangan dimasukin”, kata Nat. Namun nafsu sudah di ubun2, Rudi menggesek2an kemaluannya di lubang kemaluan Nat dan kemudian menghentakkan tubuhnya secara perlahan. Penis Rudi perlahan-lahan masuk ke dalam lubang kenikmatan Nat. “Ahhhhhh kaaak, sakiiit”, Nat berteriak.
Blesssss, hentakan kedua, penis Rudi terbenam secara sempurna di dalam lubang kenikmatan milik Nat. “Ehhhhhhh”, Nat melenguh pelan, kemudian Rudi mulai menggenjot kemaluan Nat, awalnya perlahan, hingga makin lama makin cepat. Nat tak berani membuka mata, dia hanya mendesah dan meringis menghadapi perlakuan teman2nya. Makin lama Rudi makin beringas, genjotannya makin kasar, “Ahhhhhhh, ahhhhh”, desahan Nat makin lama juga makin keras, “Ahhhh kaaak, udah kaaak, ahhhh”, Nat terus merengek, tapi dia juga menikmatinya, dan seketika Rudi mengejang, menghujam penisnya makin dalam, ahhhh crooootttt, sperma menyembur deras di dalam rahim Nat. Nat hanya pasrah saja, karena dia sudah tak berdaya.
Rudi tampak lemas, dia mencabut kemaluannya, lalu memakai celana dan kembali duduk di depan. Kini giliran Anton yg sudah tak sabar, “Eh nungging lu perek”, bentak Anton. Nat yg masih mengeluarkan air mata dan masih lemas terpaksa harus menuruti perintahnya. Sementara itu Johan mulai membuka celananya dan mengeluarkan penisnya.
Johan menarik kepala Nat dan mendekatkannya ke penisnya. Nat yg sudah tak berdaya menurut saja apa yg mereka perintahkan. Anton meremas bongkahan pantat Nat yg terpampang begitu jelas di depannya. Lalu Nat mulai mengulum penis Johan yg sudah berdiri tegak, “Ahhhhhhhh”, Johan mendesah ketika mulut Nat mulai bermain di selangkangannya, mengisap batang kemaluannya. “Ahhhhhh, sakit kak”, tiba2 saja Nat meringis kesakitan ketika Anton secara tiba2 menghujamkan penisnya ke dalam lubang kemaluan Nat.
Plak Plak Plak, suara yg begitu khas ketika Anton menggenjot memek Nat dari belakang. Nat hanya mendesah sambil menangis dan juga masih mengulum penis Johan. “Ahhhhh, terus Sayang, ahhhh”, kata Johan yg makin menghujamkan penisnya ke dalam mulut Nat. “Ahhhhhhhh”, Johan memegang kepala Nat, menekannya hingga penisnya menghujam makin dalam. Wajah Nat memerah karena tidak bisa bernafas, dan tiba2, “Ahhhhhhh, sayaaaanggg”, croooot crooot, peju Johan menyembur di dalam mulut Nat. “Huueeeekkkkk”, Nat mengeluarkan sperma Johan dari mulutnya, namun ada sedikit yg tertelan.
Air mata terus mengalir membasahi pipi Nat. Johan terkulai lemas, sementara itu Anton masih asik menggenjot memek Nat dari belakang. Makin lama makin keras, makin cepat, “Ahhhhhh, akuu mau keluaar, ahhhhh”, kata Anton. Tiba2 Anton mencabut penisnya lalu mengocoknya sendiri dan diarahkan ke pantat Nat. Crooot 7x, spermanya menyembur deras membasahi lubang anus Nat kemudian jatuh dan menetes membasahi jok mobil itu.
“Eh, giliranku donk”, celetuk Aji yg sedari tadi hanya menyetir. “Udah, minggir dulu, gw yg nyetir”, kata Johan. Kemudian Aji dan Johan bertukar posisi. Nat yg tertidur tengkurap dan terkulai lemas hanya terdiam pasrah. Tangisannya terhenti dan air matanya telah mengering. Dengan sigap Aji membuka celananya hingga penisnya terbebas. Melihat posisi Nat yg tengkurap seperti itu, Aji menindih tubuh Nat dari belakang. Penisnya diarahkan tepat di sela2 selangkangannya kemudian menggesek2 memek Nat yg masih basah.
Nat kembali memejamkan matanya, sementara itu Aji sedikit mengangkat dan menunggingkan pantat Nat. Blesss, hanya dgn sekali usaha, penis Aji terbenam di lubang kenikmatan Nat. “Ehhhhh”, Nat hanya melenguh ketika liang kewanitaannya dihajar habis2an oleh para lelaki bejat tersebut. Aji terus menggenjot memek Nat, plak plak plak, suara beradu antara selangkangan aji dan bokong Nat menghasilkan suara yg sangat indah. “Ahhhhhh, aku mau keluar, ahhh”, tiba2 saja Aji berteriak. Srrrrrr, Aji menumpahkan spermanya di dalam rahim Nat. “Ahhhh cemen lu, gak sampe semenit udah keluar”, kata Anton, “Hahahahaha”, mereka tertawa.
Mengetahui keempat lelaki itu sudah terpuaskan, Nat langsung mengambil pakaiannya. “Ehhh mau ngapain kamu, foto2 dulu lah”, tiba2 Anton merampas pakaian Nat. Aji, Anton dan Rudi secara bergantian memotret tubuh bugil Nat yg sedang menangis itu.
“Udah, udah, pake deh baju kamu, ntar kita sange lagi”, kata Rudi. Nat kembali mengambil pakaiannya satu persatu, lalu memakainya. “Ehh, kalo sampe kamu ngelapor, video n foto2 kamu bakalan nyebar, ngerti gak?”, ancam Anton. Nat hanya mengangguk tanpa ekspresi, lalu tiba2 Rudi mencekik leher Nat lalu mencium bibirnya dgn paksa dan berkata, “Jawaaaab, ngerti gak?”, bentak Rudi, “Iya ngerti”, jawab Nat. “Kalo kita pengen lagi, kamu mau gak?”, tanya Anton kembali, “Iyaaa mauuu”, kata Nat sedikit emosi, Plaaak, tamparan yg cukup keras dari Anton, “Jawab yg jelas pelacur, mau apa?”, tanya Anton dgn nada membentak, “Iyaaaa, aku mau ngentot sama kaliaaan”, jawab Nat sambil berteriak dan menangis.
Mobil masih melaju kencang dan tiba2, Ciiiiiitttt, Johan ngerem mendadak, dan tanpa di sadari ternyata sudah berada tepat di depan kampus kembali. “Dah turun sini, inget awas klo sampe ini bocor ya”, ancam Rudi kembali. Kemudian Nat turun dari mobil, Anton sempat meremas pantat Nat sambil menepuknya. Nat tidak menghiraukannya, yg ada dalam pikirannya hanyalah keluar dari neraka ini.
Nat berusaha menyembunyikan air matanya, dia berjalan ke sebuah pot bunga besar di depan kampusnya, kemudian dia duduk di tepi pot tersebut sambil terdiam. Malam begitu dingin, jalanan mulai sepi, entah berapa lama para lelaki bejat itu menyiksa tubuh kecilnya. Air mata sudah tak mampu keluar. “Naaaat”, tiba2 terdengar suara dari kejauhan, trnyata itu Nadila, Rona dan Rizal. Mereka berlari ke arah Nat, lalu dgn refleks Rizal memeluk Nat, “Kamu kemana? Aku khawatir bgt”, kata Rizal. Nat hanya terdiam tanpa ekspresi, hatinya, tubuhnya, masa depannya, semua telah hancur.
BERSAMBUNG